Asal Usul Sebutan Cina di Indonesia

Asal Usul Sebutan Cina di Indonesia

Banyak orang Indonesia penasaran dengan asal usul sebutan Cina. Sebutan ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari, dokumen resmi, atau diskusi sejarah. Namun, asal usul sebutan Cina ternyata tidak berasal dari dalam negeri. Kata ini merupakan pinjaman dari bahasa Sanskerta kuno yang menyebar melalui jalur perdagangan dan pengaruh kolonial.

Anda akan menemukan bahwa asal usul sebutan Cina terkait erat dengan Dinasti Qin di Tiongkok kuno. Kata tersebut masuk ke Nusantara melalui pedagang India, Arab, dan Eropa. Pemahaman ini membantu mengurai konotasi negatif yang melekat akibat sejarah diskriminasi. Artikel ini menjelajahi jejak lengkap asal usul sebutan Cina dari akar Sanskerta hingga penggunaan modern di Indonesia.

Akar Etimologi Kata Cina dari Dinasti Qin

Asal usul sebutan Cina dimulai dari bahasa Sanskerta “Cīna” (चीन). Kata ini tercatat dalam kitab epik Mahabharata sekitar 1400 tahun sebelum Masehi. Pada masa itu, “Cīna” merujuk pada wilayah asing yang sangat jauh dari pusat peradaban India.

Istilah ini kemungkinan besar berasal dari nama Dinasti Qin (秦, dibaca “Chin” atau “Qin”). Dinasti Qin mempersatukan Tiongkok pertama kali pada 221 SM di bawah Kaisar Qin Shi Huang. Pengucapan Sanskerta menyesuaikan “Qin” menjadi “Cīna”. Biarawan Buddha India menggunakan istilah ini untuk menyebut negeri Qin dalam terjemahan kitab suci.

Kata “Cīna” menyebar ke Persia sebagai “Čīn”. Kemudian masuk ke bahasa Eropa melalui pedagang Portugis. Duarte Barbosa mencatat “China” pada 1516. Marco Polo menyebutnya “Chin”. Penyesuaian fonologis ini membuat kata tersebut populer di Barat sebagai “China”.

Sanskrit mahabharata hi-res stock photography and images – Alamy

Ilustrasi ini menggambarkan adegan dari Mahabharata, di mana referensi wilayah jauh seperti “Cīna” muncul dalam konteks epik kuno.

Penyebaran Kata Cina ke Asia Tenggara dan Indonesia

Asal usul sebutan Cina mencapai Asia Tenggara melalui jalur perdagangan kuno. Pedagang India membawa istilah Sanskerta ini ke pelabuhan Nusantara sejak abad pertama Masehi. Jalur laut India-Southeast Asia memfasilitasi penyebaran budaya dan kosakata.

Pedagang Arab dan Persia menggunakan varian “Sin” atau “Chin” dalam catatan mereka. Pada abad ke-13, komunitas Tionghoa mulai bermukim di Jawa dan Sumatra. Mereka disebut dengan istilah lokal atau dari dialek asal mereka.

Kedatangan Portugis dan Belanda memperkuat penggunaan “Cina”. Abad ke-16, istilah ini diadopsi secara luas di pelabuhan seperti Malaka dan Batavia. Pedagang Barat menerapkan kata “Cina” untuk merujuk orang dan barang dari Tiongkok.

The Silk Road (article) | Khan Academy

Peta Jalur Sutra dan rute perdagangan maritim menghubungkan India ke Nusantara, tempat istilah “Cīna” menyebar.

Komunitas Tionghoa di Nusantara Sebelum Kolonialisme

Komunitas Tionghoa hadir di Nusantara sejak abad ke-13. Pedagang dari Fujian dan Guangdong tiba melalui jalur maritim. Mereka membawa dialek Hokkien, di mana negara asal disebut “Tiong-kok” (Zhongguo, Kerajaan Tengah).

Di Tangerang, komunitas Tionghoa Benteng tercatat sejak 1407. Mereka mendirikan permukiman di muara Sungai Cisadane. Sebutan “Tionghoa” berasal dari “Zhonghua” dalam dialek Hokkien, yang lebih mencerminkan identitas sendiri.

Masyarakat lokal awalnya menggunakan istilah netral atau deskriptif. “Cina” belum dominan karena kontak masih terbatas pada perdagangan.

Gambar-gambar ini menunjukkan warisan budaya komunitas Tionghoa Benteng, yang mempertahankan tradisi sejak era pra-kolonial.

Istilah Cina pada Masa Kolonial Belanda

Kolonialisme Belanda memperkuat asal usul sebutan Cina sebagai istilah administratif. VOC dan pemerintah Hindia Belanda menggunakan “Chinees” atau “Cina” dalam dokumen resmi. Istilah ini mencakup etnis, bahasa, dan barang impor.

Politik divide et impera Belanda memperburuk hubungan. Mereka memisahkan komunitas Tionghoa dari penduduk asli. Konotasi “Cina” mulai membawa prasangka ekonomi dan sosial.

Pada 1928, pemerintah kolonial mengakui “Tionghoa” dan “Tiongkok” untuk penggunaan resmi. Namun, “Cina” tetap populer di kalangan masyarakat umum.

Perubahan Istilah di Era Kemerdekaan dan Orde Baru

Pasca-kemerdekaan, Indonesia menggunakan “Tionghoa” dan “Tiongkok” dalam dokumen awal. BPUPKI dan UUD 1945 menyebut “Tionghoa”. Istilah ini mencerminkan identitas etnis tanpa konotasi negatif.

Pada 1967, Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera SE-06 memaksa penggunaan “Cina”. Kebijakan Orde Baru ini bertujuan asimilasi paksa. Pemerintah melarang budaya Tionghoa, bahasa Mandarin, dan istilah “Tionghoa”. “Cina” menjadi satu-satunya sebutan resmi.

Kebijakan ini dikaitkan dengan anti-komunisme pasca-G30S. Diskriminasi meningkat. Nama Tionghoa diubah menjadi nama Indonesia. Konotasi “Cina” semakin negatif di kalangan masyarakat Tionghoa.

Reformasi 2014: Kembali ke Tionghoa dan Tiongkok

Pada 14 Maret 2014, Presiden SBY menerbitkan Keppres Nomor 12 Tahun 2014. Keppres ini mencabut SE 1967. Pemerintah menetapkan “Tionghoa” untuk etnis dan “Tiongkok” untuk negara Republik Rakyat Tiongkok.

Keputusan ini menghapus stigma diskriminasi. Sejarawan Asvi Warman Adam memuji langkah tersebut sebagai koreksi historis. Penggunaan “Tionghoa” kini lebih umum di dokumen resmi dan media.

Mengapa Sebutan Cina Bukan Berasal dari Indonesia

Asal usul sebutan Cina jelas eksternal. Kata ini berasal dari Sanskerta “Cīna”, bukan kosakata asli Melayu atau bahasa Nusantara. Tidak ada bukti linguistik bahwa masyarakat lokal menciptakan istilah ini secara independen.

Komunitas Tionghoa sendiri lebih suka “Tionghoa” atau “Zhonghua”. “Cina” merupakan eksonim yang diadopsi melalui kontak luar. Penggunaannya di Indonesia adalah hasil adopsi kolonial dan perdagangan, bukan penciptaan endogen.

Dampak Sosial dan Budaya Penggunaan Istilah

Konotasi negatif “Cina” memengaruhi integrasi sosial. Diskriminasi Orde Baru meninggalkan trauma psikososial pada etnis Tionghoa. Banyak yang merasa asing di tanah kelahiran.

Reformasi membawa perubahan positif. Lunar New Year menjadi hari libur nasional sejak 2003. Ekspresi budaya Tionghoa kembali terbuka. Namun, sensitivitas tetap ada. Penggunaan istilah yang tepat mendukung harmoni multikultural.

Anda bisa memilih kata yang tepat berdasarkan konteks. “Tionghoa” menghormati preferensi komunitas. Pemahaman asal usul sebutan Cina ini mendorong toleransi yang lebih baik.

Kesimpulan

Asal usul sebutan Cina di Indonesia berakar pada bahasa Sanskerta kuno yang merujuk Dinasti Qin. Istilah ini menyebar melalui perdagangan dan kolonialisme, bukan lahir secara lokal. Perubahan dari “Cina” ke “Tionghoa” dan “Tiongkok” mencerminkan upaya rekonsiliasi pasca-Orde Baru.

Pahami sejarah ini membantu menghargai keragaman. Gunakan istilah yang inklusif untuk membangun masyarakat yang harmonis. Bagikan pengetahuan ini agar lebih banyak orang memahami konteks historisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *